Login Member

<-- Kembali

Diposting oleh Admin, Tgl 17-05-2016 & wkt 01:01:33 & dibaca Sebanyak 403 Kali        

Mukhtar Hadi, Staf pengajar di STAIN Jurai Siwo Metro

UMAR bin Abdul Azis, salah satu Khalifah dari dinasti Bani Umayyah, sedang bekerja dalam sebuah kamar di rumahnya yang memang diperuntukkan khusus sebagai ruang kerja. Saat itu ia sedang menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk sebagai pemimpin negara.

Tiba-tiba terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamar kerjanya. "Siapa?" tanya Umar bin Abdul Azis.

"Saya, ya ayahanda", terdengar jawaban dari balik pintu.

Ternyata anaknya ada suatu keperluan dan ingin membicarakannya kepada ayahnya. "Ada perlu apa anakku?" tanya Umar kemudian.

"Saya ingin membicarakan sesuatu kepada ayahanda".

"Pembicaraan ini urusan negara, apa urusan keluarga?"

Anaknya menjawab "Ini masalah keluarga Ayahanda".

Tiba-tiba Umar mematikan lampu minyak yang memang dijadikan penerangan dalam kamar itu. Tak ayal, ruangan kamar itu pun menjadi gelap gulita. Sang anak heran terhadap tingkah laku ayahnya itu.

"Ayahanda ini bagaimana, apakah kita akan berbicara dalam keadaan gelap gulita begini?" Bahkan lebih jauh lagi pikiran sang anak menduga yang tidak-tidak. Jangan-jangan ayahanda mengidap kegilaan karena sedang mabuk kekuasaan.

Memahami apa yang dirisaukan anaknya, Umar bin Abdul Azis berkata: "Anakku, kita ini akan membicarakan urusan pribadi keluarga yang tidak ada kaitannya dengan persoalan negara, sedangkan lampu minyak yang kita gunakan ini, minyaknya dibiayai negara, oleh sebab itu ayahanda mematikan lampu yang kita gunakan ini".

Mendengar jawaban ayahandanya itu, anaknya itu mengangguk-angguk tanda faham dan mengerti.

Cerita tersebut memberikan sebuah pelajaran kepada kita, profil dari seorang kepala negara yang memegang teguh amanat yang diberikan rakyat kepadanya, sehingga tidak mau jatuh pada perilaku korupsi, biar sekecil apa pun harta negara yang dikorupsi itu.

Bila dipikir, apalah artinya setetes minyak tanah milik negara yang dipergunakan sebentar dan sedikit saja untuk keperluan pribadi. Toh, jika diaudit oleh badan pemeriksa negara, penyalahgunaan minyak negara itu tidak akan ketahuan.

Dalam sejarah Islam, Umar bin Abdul Azis dikenal memilki reputasi sebagai seorang pemimpin yang adil dan sangat teguh memegang amanah kepemimpinan. Meskipun memerintah hanya dalam waktu kurang lebih dua setengah tahun, ia telah menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pemimpin yang patut dicontoh oleh pemimpin negara manapun dalam hal keteguhan memegang kekuasaan yang telah dipercayakan rakyat kepadanya.

Umar bin Abdul Azis adalah contoh dari pribadi yang religius, yang memahami betul arti dari sebuah kepercayaan rakyat, dan oleh karena itu ia harus mengabdi demi kepercayaan tersebut.

Melihat Indonesia

Di tempat lain ada sebuah bangsa yang bernama Indonesia yang selalu mengklaim-paling tidak dalam idiom-idiom dan jargon-jargonnya-bahwa mereka adalah sebuah bangsa yang religius. Sila pertama dari dasar negaranya saja menganut Ketuhanan Yang Maha Esa. Paling tidak ini adalah klaim dan pembenaran esensial bahwa mereka benar-benar sebagai bangsa religius.

Namun apa yang terjadi, sebagaimana fakta yang berkembang, bangsa ini hampir telah sempurna sebagai bangsa yang korup. Bangsa ini sedang berada dalam kemiringan yang nyaris dapat menceburkan dan mengkaramkan bangunanannya kapan saja.

Lalu apa yang salah dengan religiusitas bangsa ini? Bukankah hampir semua pemimpin negara ini adalah orang-orang yang beragama? Bukankah di antara mereka banyak yang sudah berkali-kali naik haji? Bukankah dalam setiap acara seremonial keagamaan, napas religiusitas selalu didengung-dengungkan?

Lihat betapa banyak dan panjang waktu antrean bagi orang-orang yang akan berangkat haji. Bukankah ini indikasi kesadaran beragama yang makin tinggi? Berbagai pertanyaan muncul dan bergelayut dalam setiap benak anak negeri.

Barangkali salah satu kesalahan besar kita beragama adalah penonjolan pada hal-hal yang bersifat simbolik dan bukan pada hal-hal yang bersifat substantif. Religiositas yang dikembangkan adalah religiusitas simbolik dan bukan religiusitas subtansial. Akibatnya, kita sudah cukup gagah dan merasa paling religius hanya dengan menonjolkan simbol-simbol keagamaan.

Masalah Religiositas

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Charles Y Glock dan Rodney Stark (lihat William Sims Bainbridge, The Sociology of Religions Movement, 1997: 13) dikemukan setidaknya ada lima dimensi dari religiusitas. Pertama, belief, yakni yang menyangkut bagaimana seorang penganut agama meyakini doktrin-doktrin keagamaannya.

Kedua, practice, yakni bagaimana seseorang itu mengamalkan ritual-ritual keagamaannya. Jika seseorang muslim salat, berhaji, membayar zakat, sedangkan bagi seorang kristiani pergi sembahyang ke gereja, berarti mereka melakukan dimensi practice.

Ketiga knowledge, yaitu menyangkut bagaimana pengetahuan atau wawasan keilmuan agama dari penganut agama itu sendiri. Seseorang beragama yang mengetahui dan memahami secara kelimuan ajaran-ajaran keagamaannya, berarti ia religius untuk dimensi yang ketiga ini.

Keempat adalah experiences, yaitu sejauh mana seseorang memiliki dan mengalami pengalaman-pengalaman rohaniah. Misalnya hal ini berkaitan dengan pernah atau tidaknya seseorang merasakan bahwa doa-doanya dikabulkan oleh Tuhan, atau pengalaman-pengalaman rohaniah lainnya.

Dimensi yang kelima adalah consequences, yakni dimensi seseorang selalu akan konsekuen dan memiliki tanggung jawab moral untuk berperilaku sesuai dengan keyakinan dan norma-norma agama yang dianutnya. Ia selalu merasakan kehadiran Tuhan di mana saja ia berada. Ia merasa selalu dalam pengawasan Tuhan, sehingga perilakunya, tindak tanduknya selalu mencerminkan nilai-nilai keagamaan yang diyakininya. Ia adalah pribadi yang konsekuen terhadap norma-norma keagamaan dan hal itu tecermin dalam perilakunya sehari-hari.

Barangkali dari lima dimensi keagamaan tersebut, dimensi keempat dan kelimalah yang paling tidak banyak dimiliki oleh orang-orang beragama. Tingkat religiusitas kebanyakan kita masih berada dalam tingakatan belief, practice, dan knowledge serta belum sampai pada tingkat experiences apalagi consequences. Oleh karena itu, jangan heran jika banyak orang yang mengaku beriman, beragama, dan rajin beribadah, tetapi tingkah lakunya jauh bertentangan dengan nilai-nilai agama yang diyakininya.

Dalam kasus yang sederhana, misalnya, jika setiap tahun statistik para pejabat negara yang naik haji selalu meningkat, mestinya akan diikuti oleh naiknya tingkat religisuitas mereka. Dus, dengan demikian akan makin menaikan kinerja dan dapat menekan tingkat laju korupsi. Namun, kenyataannya tidak, kinerja tetap stagnan dan korupsi malah menggurita.

Kadang-kadang ritual haji malah dijadikan sebagai lahan korupsi baru. Mengapa hal ini terjadi? Jika kita mengacu pada Glock dan Stark sebagaimana di atas, jawabannya adalah karena tingkat religisuitas mereka belum sampai pada tingkat concequences.

Penyebab mengguritanya korupsi di negeri ini sering dianalisis sebagai kesalahan pendidikan agama di sekolah-sekolah. Lalu, kemudian berbagai usulan untuk memperkuat pendidikan agama di sekolah agar laju korupsi dapat ditekan banyak mengemuka. Namun, jika pola pendidikan agama masih saja menekankan pada pendekatan knowledge, hanya sekadar mentranfer keilmuan agama, jangan berharap langkah itu akan efektif.

Terlalu berharap pada penguatan pendidikan agama untuk memberantas korupsi jangan-jangan hanya sebuah angan-angan belaka. Yang kita butuhkan adalah pendidikan agama yang dapat memupuk dan membentuk pribadi yang religius dalam arti mencakup kelima dimensi religiusitas. Pendidikan yang mampu menginternalisasikan nilai-nilai pada diri siswa, yang menyentuh kalbu siswa dan bukan hanya pada otaknya.

Jika demikian, masihkah kita mengkalim sebagai bangsa yang religius? Melihat keadaan religisusitas bangsa ini kita tidak sedang berada dalam kondisi pure-religius (religiusitas yang murni dan sebenarnya), tetapi kita sedang berada dalam pseudo-religius, yaitu religiusitas semu yang hanya muncul dalam jargon dan symbol, tetapi tidak muncul dalam praksis kehidupan sehari-hari. n

Tulisan ini terbit di Lampungpost, Sabtu, 14 Mei 2016 diterbitkan ulang untuk tujuan pendidikan.

http://lampost.co/berita/pseudo-religius



TINGGALKAN PESAN DISINI

Pengirim :
Email :
Website :
DUy7z
 


Halaman :

<-- Kembali

Agenda Kampus
Maaf Agenda hari ini kosong, anda bisa melihat arsip agenda di bawah ini :
Kuliah Guru Besar Tamu: Prof. Dr. Abdurrahman Masud, Ph.D [ 20 Jun 2013 / 08:00 s/d selesai ]
Ujian Akhir Semester Genap 2013 [ 11 Jun 2013 / 01:38 ]
Seminar Hasil Penelitian Tesis [ 4 Jun 2013 / 01:35 ]
Kuliah Umum Prof. Dr.Phil. H.M. Nur Kholis Setiawan [ 23 Mar 2013 / 13:00 WIB ]
Ujian Komprehensif Prodi PAI dan HK (SMT III) [ 09 - 19 Mar 2013 / 08.00 s/d selesai ]
Shoutbox
  • Eka: pengumuman gel 2 di mana
  • Nur Kholis: Kenapa pengumuman s2 yang no 024 ada 2 ? yang bner 025 tw gmn pk ?
  • tama: pengumuman s2 mana
  • ahmad: kalau ada info up date,. sbaiknya cpat di konfirmasikan ,. jdi tdak susah yang perlu dan btuh info,. sperti halnya jdwal smnar,..
  • putry anjeli: Kapan pendaftarn gelombang ke2 pak?
  • valia afrah salsabil: Ass pak kpan terakhir pendaftaran gelombang 2 d stain?
  • saiful bahri: daftar ulang terakhirnya kpan mhon di share
  • Laila safitri: Posting nama nama mahasiswa yang ke terima dong pak?
  • ricky: stain buka jalur mandiri enggk kak ??
  • admin: @Winda Eka: Berdasarkan hasil rapat manajemen PPs, masa pendaftaran mahasiswa baru PPs STAIN 2014 diperpanjang hingga tgl 27 Juni 2014
  • winda eka: terahir pendaftaran di STAIN 2014 kpan y ..???:D:D:D:D:):)
  • admin: @ali & mahrus: pmb pps buka dari 14 april - 30 mei 2014, silakan baca berita di web ini.
  • admin: @agustina satar: saat ini baru Pendidikan Agama Islam dan Hukum Keluarga (Islam)
  • admin: @muhammad sofyan: untuk s3 belum pak, rencana mau menambah prodi baru s2 Pend. Bhs Arab, Ekonomi Islam, Manajemen Pendidikan Islam
  • mahrus: info pmb pasca stain kpn.
  • septian: stain kapan menerima mahasiswa baru 2014;)
  • ali: tanya; tanggal brp ya mulai pendaftaran mahasiswa baru untuk pasca hukum keluarga.tolong infony mksih.
  • agustina sattar: Mo tnya dunx... Prog studi bwt pascasarjana apa aja??? Thanks before
  • muhammad sofyan: kepada admin PPS Stain mtro Mohon info-nya kabar2nya stain mau buka program S3 Ekonomi Islam,benarkah info tersebut.terimakasih
  • admin: @EDI, untuk pertanyaan terkait gaji n sk dosen kontrak silahkan langsung ditanyakan ke bagian kepegawaian dan keuangan, trims.
Nama:

Isi Pesan Anda:
:) :D ;) :( :O :P :S :roll: ;( :@

Security : dubh0
Statistik Pengunjung
Online : 1 User
Tot Hits : 357304 Hits
Hari Ini : 123
Kemarin : 129
Bulan Ini : 1519
Tahun Ini : 60537
Total : 283688
Jajak Pendapat

Polling Management
Apakah informasi di website kami sudah lengkap?
Lengkap202 (88.6%)
TOTAL228

Arsip Polling Sebelumnya


Banner Link Terkait
Kolom Ketua


Asisten Direktur 1


Kolom Puket 1


Kolom Puket 2


Kolom Puket 3


Kolom Puket 4


Pengelola Pasca Sarjana


Asmaul Husna



Hadis



Banner Link


Pasang banner kami di situs / blog anda

klik lalu copy dan paste di situs/blog anda